KAMPUS 1 UST

Pusat adminnistrasi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Kampus Kebangsaan, Kampus Kebanggaan.

FKIP UST JOGJA

Kampus 3 UST JOGJA - FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Tempatku belajar dan menuntut ilmu, mempersiapkan diri menjadi seorang guru SD yang berkualitas handal.

GRHATAMA PUSTAKA YOGYAKARTA

Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY. Sumber ilmu, pengetahuan dan informasi yang tiada batasnya. Kunjungi dan Jadi Tahu Dunia.

MUTIARA HATI DAN JIWAKU

Ibundaku (Ibu Purwati) dan Kakakku (Mas Teguh Prasetyo Utomo, SIP.). Dua sosok yang sangat berperan dalam hidupku. Aku sangat mencintai mereka.

PP AL-LUQMANIYYAH YOGYAKARTA

Di sini saya nyantri, di sini saya ngaji, di sini saya ngabdi. Untuk meraih kemuilaan hidup dunia - ahirat. Aamiin.

Minggu, 29 September 2019

Apresiasi Seni Tari "Menuai Padi" (Tugas Mata Kuliah Seni Tari) Prodi PGSD FKIP UST Yogyakarta



Apresiasi Seni Tari
Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Seni Tari
Dosen Pengampu : Dyan Indah Purnama Sari, M.Pd




Disusun Oleh :
Sugiarti Sri Lestari ( 2016015481)
Kelas 7L


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2019


Apresiasi Seni Tari

Apresiasi seni adalah penilaian terhadap karya seni mulai dari mengenali, memberi nilai, hingga menghargai. Tujuan  pokok dari apresiasi pada seni berupa memperkenalkan atau mempublikasikan karya seni tersebut agar karya seni lebih dapat dinikmati oleh publik juga maksud serta tujuannya tersampaikan.
Apresiasi terhadap karya seni dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :

  1. Apresiasi empatik, yaitu menilai atau menghargai suatu karya seni yang dapat ditangkap dengan sebatas indrawi saja
  2. Apresiasi estetis, yaitu menilai atau menghargai suatu karya seni melibatkan pengamatan dan penghayatan yang mendalam
  3. Apresiasi kritis, yaitu menilai atau menghargai suatu karya seni dengan melibatkan klasifikasi, deskripsi, analisis, tafsiran, dan evaluasi serta menyimpulkan hasil penilaian.


Ada lima tahap dalam mengapresiasi suatu karya seni, yaitu :

  1. Pengamatan, yaitu pengamatan terhadap suatu karya seni tidak dilakukan hanya dengan satu indera saja. Tetapi, dengan memberdayakan seluruh pribadi. Maksudnya, apresiasi ini juga dilakukan dengan ketajaman pengamatan seseorang serta pengetahuan ilmu seni.
  2. Aktivitas fisiologis, yaitu tindakan nyata dalam melakukan suatu pengamatan
  3. Aktivitas psiologis, yaitu persepsi dengan evaluasi yang kemudian dapat menimbulkan suatu interpretas imajinatif sebagai pendorong kreativitas
  4. Aktivitas penghayatan, yaitu dapat dilakukan dengan mengamati suatu objek harya seni secara mendalam
  5. Aktifitas penghargaan, yaitu suatu evaluasi terhadap objek dengan menyampaikan saran atau kritikan


Tari Menuai Padi




Lokasi : Hamzah Batik,Yogyakarta


  • Latar Belakang Tari Manuai Padi

    Adapun tari Manuai Padi ini adalah salah satu jenis tarian yang cukup terkenal dan cukup sering dipertunjukkan di daerah Jawa Tengah. Tari Manuai Padi ini sendiri termasuk jenis jenis tarian jawa tengah berasal dari Jawa Tengah. Awalnya tarian Manuai Padi ini hanya digelar pada saat akan musim panen padi saja, sesuai dengan namanya “ manuai padi “, yang artinya menuai atau memanen padi.

    Tarian Manuai Padi padi ini digelar sebagai rasa ucapan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunianya masyarakat setempat bisa memanen atau menuai padi pada musim tersebut. Namun seiring perkembangan budaya yang ada, tari Manuai Padi ini juga sering digelar pada saat penyambutan tamu kenegaraan atau tamu penting yang berkunjung ke daerah tersebut. Oleh karena itulah, tari Manuai Padi cukup dikenal oleh orang atau masyarakat luas.

  • Makna Tari Manuai Padi

    Adapun makna dari tari Manuai Padi ini adalah sebuah tari yang menggambarkan kehidupan seorang petani padi yang dilakukan mulai dari mencangkul sawah, membajak serta menanam padi tersebut hingga tibalah masa panennya.

    Pada alur cerita tari Manuai Padi ini juga diceritakan kerja sama yang akur dan rukun ketika berada disawah yang menunjukkan kerukunan dan saling tolong menolong. Kerukunan tersebut bisa tercermin ketika musim panen telah tiba, mereka saling bekerja sama untuk menyelesaikan manuai padi tersebut yang dipertunjukkan atau digelar dalam bentuk tarian. Dengan tarian ini pula, kita sebagai masyarakat Indonesia yang berbudaya kita akan semaki mengerti bahwasanya kita membutuhkan orang dan tidak bersifat individualisme. Karena konon kebersamaan itu adalah indah. Setuju dong sobat.

  • Kostum dan Properti Tari Manuai Padi

    Layaknya seperti pada saat menua padi, maka para penari menggunaan properti layaknya seperti saat menuai padai. Mulai dari :
  • Menggunakan sabit
  • Menggunakan topi yang terbuat dari anyaman bambu 
  • Peralatan menudai padi yang lainnya.

    Kostum bagi penari wanita antara lain :
  • Menggunakan kain kebaya sebagai atasan yang sering juga disebut sebagai apok
  • Sinanjang sebuk
  • Sebagia bawahan menggunakan kain dan juag dilengkai dengan aksesoris seperti gelang atau kalung. 
  • Sementara untuk penari pria antara lain :
  • Menggunakan penkat kepala
  • Baju setengah lengan
  • Celana selutu kakinya
  • Sabuk sebagi pengikat pinggnya menggunakan kain.
Demikian pemaparan dari saya semoga bermanfaat. Terimakasih.

Kamis, 07 Maret 2019

Tugas Mata Kuliah Seni Rupa : Apresiasi Seni Rupa

APRESIASI SENI RUPA
Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Seni Rupa
Dosen Pengampu : Dyan Indah Purnama Sari, M.Pd





Disusun Oleh :
Sugiarti Sri Lestari (2016015481)
Kelas 6L


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2019



APRESIASI SENI RUPA
04 Maret 2019

Apresiasi seni adalah penilaian terhadap karya seni mulai dari mengenali, memberi nilai, hingga menghargai. Tujuan  pokok dari apresiasi pada seni berupa memperkenalkan atau mempublikasikan karya seni tersebut agar karya seni lebih dapat dinikmati oleh publik juga maksud serta tujuannya tersampaikan.
Apresiasi terhadap karya seni dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : 
  1. Apresiasi empatik, yaitu menilai atau menghargai suatu karya seni yang dapat ditangkap dengan sebatas indrawi saja. 
  2. Apresiasi estetis, yaitu menilai atau menghargai suatu karya seni melibatkan pengamatan dan penghayatan yang mendalam.
  3. Apresiasi kritis, yaitu menilai atau menghargai suatu karya seni dengan melibatkan klasifikasi, deskripsi, analisis, tafsiran, dan evaluasi serta menyimpulkan hasil penilaian.

Ada lima tahap dalam mengapresiasi suatu karya seni, yaitu : 
  1. Pengamatan, yaitu pengamatan terhadap suatu karya seni tidak dilakukan hanya dengan satu indera saja. Tetapi, dengan memberdayakan seluruh pribadi. Maksudnya, apresiasi ini juga dilakukan dengan ketajaman pengamatan seseorang serta pengetahuan ilmu seni. 
  2. Aktivitas fisiologis, yaitu tindakan nyata dalam melakukan suatu pengamatan.
  3. Aktivitas psiologis, yaitu persepsi dengan evaluasi yang kemudian dapat menimbulkan suatu interpretas imajinatif sebagai pendorong kreativitas.
  4.  Aktivitas penghayatan, yaitu dapat dilakukan dengan mengamati suatu objek harya seni secara mendalam.
  5.  Aktifitas penghargaan, yaitu suatu evaluasi terhadap objek dengan menyampaikan saran atau kritikan


BIOGRAFI SENIMAN
Nama                               : Bima Arindra Kuswardana
Tempat / Tgl Lahir          : Gunungkidul,  1 November 1997
Jenis Kelamin                  : Laki – laki
Alamat                             : Jeruksari RT 10/RW 23, Wonosari, Gunungkidul, DIY
Agama                             : Islam
Status                               : Mahasiswa

CV Berpameran :
  1. Group exhibition at Perpustakaan Wonosari, 2013
  2. Group exhibition “Gang Bang” at Rolf Cafe Wonosari, 2015
  3. Group exhibition “Pemuda di Sumpah” Diesnatalis UST at  JNM, 2016
  4. Group exhibition “Tolah Toleh” at Taman Budaya Surakarta, 2016
  5. Group exhibition “Pro Konco” at Loops cafe Yogyakarta, 2017
  6. Group exhibition “ Menuju Jalan Poster” at LKIS Yogyakarta 2017
  7. Group exhibition “Raswa Mincuk” Diesnatalis UST at JNM, 2017
  8. Kolektif Semanggi exhibition “ Mens Trought Artsy” at Survive! Garage, 2018
  9. Group exhibition “The Mood” at Ruang Seni Bangunjiwo, 2018
  10. Group exhibition “KEEP THE FIRE ON #4” at Survive! Garage, 2018
  11. Group exhibition “UNIVERSITY ART DAY” , at JNM, 2018
  12. Group exhibition “Dalam Kardus” Diesnatalis UST at JNM, 2018
  13. Group exhibition “KAGEM SEDULUR” at Survive! Garage, 2018



                       

                             
Seniman          : Bima Arindra Kuswardana
Judul               : Catatan di Malam Itu
Ukuran            : 30 cm x 30 cm
Media              : Mix Media on Canvas
Tahun              : 2018

Konsep Karya :

Catatan merupakan suatu pengalaman kejadian “aneh” yang pernah dialami. Sebuah cacatan nyata tentang pengalaman terjadi tidak jauh manusia yang pernah lakukan juga yaitu tentang terjadinya mimpi buruk, bagaimana rasa yang pernah dialami, dihayati, dan direnungkan merasa cemas, gelisah, khawatir. Oleh itu, pengalaman tersebut justru divisualisaikan menjadi karya seni. Karena tidak akan melupakan pengalaman “aneh” yang sudah dialami dan selalu menjadi cacatan ansip karya seni.

Tentang Karya :

Karya tersebut adalah sebuah seni kontemporer yang berjudul Catatan di Malam Itu. Karya tersebut dibuat di sebuah studio lukis favorit si pelukis pada tahun 2018. Karya tersebut muncul berdasarkan pengalaman si pelukis yang pernah mengalami kejadian mimpi buruk yang sangat berbeda. Sehingga dari kejadian itu, si pelukis termotivasi untuk menciptakan karya-karya yang lain. Untuk menyelesaikan karya tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama, sebuah konsep karya seni terlebih dahulu, di konsep tersebut tidak jauh yang dialami, mengamati, menghayati kemudian akan terus melakuakan explore tentang sebuah konsep karya maupun visual dengan bagaimana perasaan tersebut diendapkan, direnungkan, dan di olah menjadi visual karya seni.

Dalam mengampresiasi karya seni tidaklah mudah. Harus membutuhkan ketelitian yang tinggi serta pengalaman yang banyak. Apalagi si penulis yang masih banyak sekali kekurangan dalam mengapresiasi karya seni. Untuk itu, si penulis mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam menyajikan informasi mengenai “Apresiasi Seni Rupa” .

Daftar Pustaka
  1. Syahban Nur, Muh. 2011. Pengertian Seni Rupa.
  2. Adjie. 2011. Seni Rupa Murni Terapan.
  3. Muhadjir, I. 1992. Pengetahuan Seni 2. Depdikbud IKIP Malang: Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas.

Kamis, 13 April 2017

Vidio Doa Untuk Orang Tua



Adik-adik ini ada vidio tentang "Doa Untuk Orang Tua''. Sebagai anak yang sholeh sholeha jangan lupa mendoakan orang tua kita yaa....

Mari kita lihat...

Kamis, 22 Desember 2016

Biografi Al-Marhum Al-Maghfurllah Abah KH. Najib Salimi - Pengasuh PP Al-Luqmaniyyah Yogyakarta



Nama, Kelahiran, dan Masa Kecil Beliau

Beliau dikenal dengan nama KH Najib Salimi. Nama beliau sebagaimana tercantum dalam identitas kewarganegaraan beliau adalah Najib Mamba’ul Ulum. Sedangkan nama beliau sebagaimana penuturan ayahanda beliau adalah Najib Zamzamudin. Para santri menyebut beliau dengan panggilan Abah Najib. Sedangkan tamu, sahabat, kolega dan jamaah majlis beliau menyebut beliau dengan Gus Najib.

Beliau dilahirkan pada hari Selasa Pon, tanggal 5 Januari 1971, di Dusun Mlangi Kelurahan Nogotirto Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dusun Mlangi terletak di arah barat laut kraton Yogyakarta. Jarak dari kraton kurang lebih 9,4 km. Dusun ini merupakan sebuah wilayah yang memiliki akar sejarah yang kuat di Yogyakarta. Di sana terdapat bangunan masjid yang disebut sebagai Masjid Pathok Negoro dan makam Mbah Nur Iman, seorang ulama yang masih merupakan keluarga Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Di Mlangi terdapat beberapa pesantren dan memiliki tata kehidupan yang religius. Oleh karenanya, anak-anak kecil yang lahir dan tumbuh di sana hidup dalam suasana keagamaan dan keilmuan yang kuat. Terlebih mereka yang lahir dari keluarga pengasuh pesantren.

Di masa kecil beliau, KH Najib mendapatkan pengajaran langsung dari kedua orang tua beliau. Beliau juga menyelesaikan pendidikan dasar di sekolah formal. Hanya saja, ijazah sekolah dasar beliau ini tidak diambil. Orang tua beliau memang lebih mementingkan pendidikan di pesantren daripada pendidikan di sekolah formal. Bagi sebagian besar masyarakat, mungkin sikap yang demikian dianggap sebagai sikap yang kolot. Akan tetapi, dapat dibuktikan bahwa meskipun tidak mengenyam pendidikan formal yang tinggi, putra dan putri KH Salimi tumbuh dewasa dengan pengetahuan, wawasan, dan pergaulan yang luas.

Sekilas Tentang Keluarga Beliau

KH Najib Salimi dilahirkan dari keluarga pengasuh pesantren. Ayahanda beliau, KH Salimi, adalah pengasuh Pondok Pesantren API (Asrama Perguruan Islam) As-Salimiyyah. Hingga tulisan ini dibuat, ayahanda dan ibunda beliau masih mengasuh pesantren tersebut. Ibunda beliau bernama Nyai Bunyanah, seorang penghafal al-Qur’an, putri dari seorang Kyai besar di Mlangi, yaitu K. Masduqi, pengasuh Pondok Pesantren As-Salafiyyah Mlangi.

KH Salimi adalah santri dari KH Chudlori, pendiri dan pengasuh pertama Pesantren Tegalrejo Magelang. Beliau adalah seorang santri yang loyal. Seluruh putra beliau kemudian menimba ilmu dari pesantren yang sama. Bisa dikatakan bahwa keluarga KH Salimi adalah keluarga santri Tegalrejo Magelang.

Garis silsilah keluarga KH Najib dari ayah dan ibu beliau bersambung kepada Mbah Nur Iman. Beliau adalah kakak sulung dari Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengkubuwono I (1717-1792). Nama beliau adalah BPH (Bendara Pangeran Haryo) Sandiyo. Mbah Nur Iman adalah sosok ulama yang menurunkan banyak tokoh pejuang dan ulama di wilayah Jawa.

KH Najib adalah anak kedua dari tujuh orang bersaudara. Tiga saudara laki-laki beliau adalah K. Ahmad Nasihin, K. Na’imul Wa’in, dan K. Nurcharist Madjid. K. Na’im tinggal dan mengasuh pesantren di daerah Dayakan Purwomartani Kalasan Sleman. Sedangkan kedua saudara laki-laki beliau yang lain tinggal dan mengajar di pesantren ayahanda mereka. Tiga saudara perempuan beliau yaitu Ning Isna, Ning Ilvin, Ning Asna. Ketiganya mendapatkan suami dari keluarga pesantren juga. Ning Isna diperistri K. Mabarun, pengasuh Pesantren Al-Miftah Mlangi. Ning Ilvin diperistri K. Misbah, dari Pesantren Al-Falahiyyah Mlangi. Sedangkan Ning Asna diperistri K. Baidlowi, putra KH. R. Mastur, pengasuh pesantren di Tempuran Magelang. K. Baidlowi bersama Ning Asna kemudian tinggal dan mengasuh Pesantren Ar-Rohmah di Kleben Pendowoharjo Sleman. Dapat dikatakan bahwa KH Najib beserta saudara-saudara, dan ipar-iparnya adalah para penggerak pendidikan di pesantren. KH Najib sendiri memperistri Nyai Hj. Siti Chamnah, putri KH Khudlori Abdul Aziz, pengasuh Pesantren Al-Anwar di Ngrukem Sewon Bantul.

KH Najib sangat menyayangi para adiknya, dan sangat peduli dengan cita-cita dan harapan mereka. Diantara para saudaranya, beliau adalah salah seorang anak yang paling mampu meluluhkan hati sang ayahanda.

Masa Belajar

Setelah menamatkan SD pada tahun 1985, beliau dikirim belajar ke pesantren API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diasuh oleh KH Abdurrahman Chudlori. Beliau adalah seorang panutan bagi KH Najib, terutama dalam semangat menyebarkan ilmu dan pengabdian.

Di pesantren inilah beliau benar-benar melakukan prihatin bahkan hingga badan kurus dan kusut. Pada suatu kondisi sakit, beliau pernah berdoa meminta kesembuhan jika saja hidup beliau memang lebih bermanfaat, dan sebaliknya jika memang hidup beliau memang tiada guna maka lebih baik sudahi saja.

Beliau belajar di Magelang hingga tahun 1992. Beliau harus pulang karena harus membantu orang tua beliau yang menghadapi ujian besar, yaitu berpindahnya  pesantren dari Dusun Mlangi ke Dusun Cambahan di tahun 1990.

Meskipun terhitung sebentar untuk ukuran menimba ilmu di pesantren Tegalrejo, namun beliau memiliki kedekatan yang cukup erat dengan Pak Dur, atau KH Abdurrahman Chudlori. Pak Dur adalah pembicara yang wajib diundang dalam setiap pengajian akhir tahun di pesantren KH Najib. Bahkan setelah Pak Dur wafat, putra beliau yaitu KH Izzuddin Abdurrahman ditetapkan sebagai pembicara yang wajib diundang.

Masa Pengabdian

Setelah tidak lagi belajar di Magelang, KH Najib menghadapi babak baru dalam kehidupan beliau. Beliau dituntut untuk mengabdi kepada orang tua beliau. Beliau membantu keberlangsungan kegiatan di pesantren ayahanda beliau sekaligus berinteraksi dengan berbagai orang yang datang ke Cambahan dengan berbagai keperluan.

Pada masa ini, beliau gemar berinteraksi dengan orang lain, dan mengajak mereka untuk lebih dekat dengan dunia pesantren. Beliau berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai lapisan mulai dari yang buruh, mahasiswa, pejabat, hingga akademisi. Pergaulan beliau inilah yang menjadikan beliau memiliki wawasan yang luas dan mengenal berbagai karakter orang.

Beliau gemar berdagang. Beliau termasuk seseorang yang memiliki keyakin kuat bahwa segala apapun usaha pasti akan menuai hasil meski bukanlah yang diasumsikan ataupun diharapkan di awal.

Beliau sering mengikuti dan mengadakan kegiatan forum diskusi dengan para aktivis mahasiswa ataupun gerakan sosial. Seringkali beliau mengadakan forum diskusi kemudian diikuti dengan kegiatan ziarah ke makam para ulama.

Di penghujung abad 20, beliau mempersunting Nyai Hj. Chamnah, sebuah babak baru kehidupan beliau. Tidak lama setelah pernikahan beliau, ayahanda beliau, KH Salimi, diserahi untuk mengelola sebuah komplek bangunan di tengah kota Yogyakarta untuk  dijadikan sebuah pesantren. Akhirnya, pesantren inilah yang kemudian dikelola oleh KH Najib Salimi.

PP Al-Luqmaniyyah didirikan oleh seorang pengusaha keturunan Batak bernama H. Luqman Jamal Hasibuan. Pesantren ini diresmikan pada tanggal 9 Februari 2000 dengan pengasuhnya adalah KH Najib Salimi yang pada saat itu baru menginjak usia 29 tahun.

Pesantren ini berada di tengah kota Yogyakarta, tepatnya di Kecamatan Umbulharjo. Awalnya, pesantren ini diperuntukkan untuk mereka yang hanya hendak menuntut ilmu agama saja. Akan tetapi, setelah beberapa bulan berjalan, justru yang tertarik masuk adalah mereka yang kuliah di kampus-kampus di Yogyakarta.

Pesantren ini cepat mengalami perkembangan sebanding dengan pengaruh KH Najib Salimi di kehidupan keberagamaan di Kota Yogyakarta yang juga semakin meluas. Jamaah luar pesantren dari masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya mulai mengambil manfaat dengan mengikuti kegiatan mujahadah pada setiap malam selasa.

Orang-orang mulai banyak yang berdatangan ke pesantren sekedar ingin sowan KH Najib dan berbagi cerita kehidupan mereka masing-masing. KH Najib menerima tamu pada tiap malamnya hingga dini hari. KH Najib berprinsip bahwa tamu yang datang adalah sumber keberkahan meski datang dengan permasalahan.  Tamu yang datang sangat beragam dan semua diperlakukan oleh KH Najib selayaknya orang dekat.

Pada tahun 2006 KH Najib mendapatkan amanah sebagai Rais Syuriyah Nahdlatul Ulama Cabang Kota Yogyakarta. Dengan amanah ini kemudian peran beliau dan pesantren beliau semakin dirasakan masyarakat Kota Yogyakarta khususnya nahdliyyin. Para pejabat pemerintah pun berdatangan mulai dari yang sekedar silaturahmi dan perkenalan hingga yang akhirnya ikut dalam kegiatan pengajian beliau.

Sebenarnya, tidak sedikit tamu yang datang ke tempat beliau dan minta bantuan beliau kemudian pada akhirnya menyusahkan beliau. Akan tetapi, beliau sama sekali tidak pandang bulu dalam membantu dan mendidik orang. Beliau berkeyakinan bahwa setiap orang berhak mendapatkan tarbiyah, meskipun ia datang dengan itikad yang tak baik. Seringkali beliau mendapat kecaman dan fitnah dari orang lain. Namun semua itu adalah kepahitan yang kelak akan diganti dengan kebaikan.

Bagi para santri, beliau adalah sosok orang tua yang penyayang dan tahu akan apa yang dibutuhkan oleh anak didiknya. Para santri menyebut beliau dengan sebutan Abah Najib.

Pemikiran Beliau Tentang Moral dan Pendidikan Islam

KH Najib Salimi mengasuh Pesantren Al-Luqmaniyyah dari mulai berdiri hingga akhir hayat beliau. Banyak hal yang dapat dicatat dari perjalanan hidup dan pemikiran-pemikiran beliau tentang moral, pendidikan dan pesantren. Berikut beberapa di antaranya:

Selain sebagai tempat belajar ilmu-ilmu keagamaan, pesantren adalah tempat belajar menumbuhkan nilai-nilai yang berguna di kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai seperti gotong royong, tepo seliro, sopan santun, pengorbanan, kesederhanaan, dan tanggung jawab mutlak harus dijalani oleh seorang santri.

Tanggung jawab adalah sebuah kesempatan, bukan sebuah beban. Seorang santri yang diberi tanggung jawab sebagai pengurus pesantren harusnya bersyukur karena diberikan wahana untuk belajar dan meningkatkan kualitas diri. KH Najib tidak mengarahkan secara detail kepada santri beliau tentang bagaimana mengelola organisasi pesantren. Beliau senantiasa memberikan keluasan kepada pengurus pesantren untuk membuat sebuah kebijakan dan alternatif-alternatifnya meskipun dalam beberapa hal pada akhirnya apa yang diputuskan haruslah atas keputusan beliau. Dari situlah seorang santri belajar sebagai pemimpin, mengambil sebuah kebijakan dan kemandirian.

Untuk menumbuhkan jiwa pengabdian dan pengorbanan yang tinggi, seorang santri harus dilatih untuk mengesampingkan apa yang menjadi kebutuhan pribadinya dan mendahulukan apa yang menjadi kebutuhan bersama atau orang lain. Tentang ini, beliau terkadang memanggil santri yang tampak sibuk atau terburu-buru dengan urusannya dan memberi sebuah perintah kepadanya walau ringan semisal menyapu halaman, merapikan tanaman, ataupun lainnya. Dengan kondisi yang sibuk atau terburu-buru tadi memungkinkan si santri merasa sangat terganggu dan tak rela. Akan tetapi, yang demikian jika terus dilatih akan menumbuhkan rasa ikhlas dalam pengabdian dan pengorbanan.

Termasuk dalam proses memperoleh ilmu, seorang santri harus menghilangkan ke-aku-annya dan tunduk dengan apa yang menjadi petunjuk guru. KH Najib mendidik seseorang yang selalu bangga dengan dirinya dengan jalan memberinya perintah untuk melakukan hal-hal yang remeh menurutnya.

Untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat, seorang santri harus menyiapkan wadah yang bersih. Pikiran dan hati tidaklah boleh habis untuk sesuatu yang tiada guna. Dalam hal ini, proses riyadloh dan mujahadah adalah suatu keniscayaan. Keduanya adalah latihan badan sekaligus olah batin untuk dapat menerima cahaya ilmu. Hingga saat ini, Pesantren Al-Luqmaniyyah menjadi pesantren dengan ciri tirakat santri dan mujahadah-nya. Banyak santri yang melanggengkan puasa sunnah. Diantara mereka juga banyak yang ngerowot, yaitu tidak mengonsumsi beras dan variannya. Mereka menjadikan olahan singkong sebagai bahan makanan pokok setiap harinya. Mujahadah di Pesantren Al-Luqmaniyyah dilakukan di setiap habis maghrib dan sebelum subuh. Selain itu, juga terdapat aktivitas mujahadah yang dilaksanakan bersama dengan jamaah dari luar pesantren.

Meskipun mujahadah dan tirakat adalah hal penting, akan tetapi kegiatan proses belajar mengajar adalah suatu keniscayaan.

Dalam setiap kondisi yang kita hadapi akan selalu ada kemungkinan cocok dan tidak cocok. Sesuatu yang tidak cocok bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi. Jika kita selalu berpindah ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai, bisa jadi akan berpindah ke sesuatu yang juga tidak cocok dengan kita. Jika terus demikian, maka kita tak belajar apapun dari kondisi yang ada. Berpindah-pindah pesantren bisa jadi karena kita tak mampu menghadapi sesuatu yang tidak cocok dengan kita.

Untuk mencapai kemuliaan maka harus melalui proses yang tidak instan. Seringkali kita memandang kesuksesan seseorang sebagai sebuah keberuntungan, tetapi kita lupa bahwa pencapaian tersebut selalu dibarengi dengan proses pahit perjuangan.

Jika ada seseorang yang menggantungkan harapannya dengan meminta pertolongan kepada kita, maka meski kita tidaklah mampu, kita harus berusaha dengan apapun yang bisa diusahakan. Sikap semacam ini adalah bentuk kasih sayang kita kepada sesama dan usaha untuk mencegah terjadinya keputus-asaan terhadap pertolongan Allah SWT.

Kesuksesan belajar seorang santri dan kemanfaatan ilmu yang diperoleh berbanding lurus dengan dukungan dan doa dari para guru dan orang tua santri. Oleh karenanya, KH Najib selalu menekankan kepada orang tua santri untuk senantiasa ikut prihatin atau menjaga diri dan berusaha memperbaiki diri.

Hadapilah orang lain dengan memanusiakannya. Kita tidak diperkenankan untuk berbuat semau diri sendiri tanpa memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan orang lain. Dengan sikap beliau yang demikian ini, hampir setiap orang yang kenal beliau mengklaim bahwa dirinya adalah seorang yang paling dekat dengan beliau.

Apapun yang menjadi mata pencaharian seorang santri ketika tamat dari pesantren, maka jangan pernah meninggalkan untuk mengajar, meskipun sekedar mengajar baca tulis al-Qur’an.

Wafat Beliau

Beliau wafat pada Jumat dini hari tanggal 30 September 2011 di RS PKU Muhammadiyah Kauman Yogyakarta. Lima hari sebelumnya beliau mengalami kecelakaan di Jalan Lingkar Kudus Jawa Tengah. Pada saat itu, beliau sedang dalam perjalanan pulang setelah ziarah ke makam Sunan Muria di Kudus.

Beliau meninggal di usia 40 tahun, usia yang terbilang cukup muda. Tepat seminggu sebelum meninggal, beliau diundang dan hadir dalam lokakarya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mengangkat tema terkait tentang hilangnya spiritualitas di institusi formal pendidikan Islam. Beliau diundang karena kapasitas beliau sebagai tokoh pesantren.

Beliau meninggalkan satu istri, Nyai Hj. Siti Chamnah, dan tiga orang anak. Dua putranya bernama Muhammad Abdullah Falah dan Muhammad Alwy Masduq, dan putri bungsu bernama Abdah Iqtada. Sepeninggal beliau, pesantren diasuh oleh istri beliau dan yang terjadi justru jumlah santri menjadi dua kali lipat.

Jenazah beliau dikebumikan pada siang hari dari wafat beliau. Letak makam beliau di sebelah timur makam Mbah Nur Iman di Mlangi. Ribuan orang datang untuk melayat, mensalati, dan mengantarkan jenazah beliau. Bahkan, ada yang menyebutkan bahwa baru pada saat pemakaman KH Najib lah hampir seluruh warga Mlangi keluar untuk mengikuti prosesi pemakaman seseorang. Yang demikian ini tidak lain karena kedekatan almarhum dengan setiap orang yang beliau kenal.

Penulis: Irfan Antono, S.Hum

Santri PP Al-Luqmaniyyah tahun 2002 hingga sekarang

Sumber tulisan: http://al-luqmaniyyah.id/artikel/biografi-kh-najib-salimi-tokoh-pendidikan-dari-yogyakarta.html/